Rabu, 14 September 2011

Budidaya Kayu di Gunungkidul Masih Rendah

WONOSARI (KRjogja.com) - Kayu jati merupakan satu jenis kayu paling berharga di Indonesia. Namun pengembangan kayu jati masih menghadapi beberapa hambatan diantaranya rendahnya kualitas kayu akibat budidaya dan kurang, juga masalah permodalan untuk berinvestasi.

“Akses informasi pasar juga masih terbatas, sehingga menyebabkan harga kayu jati rakyat jauh di bawah harga pasar,” kata Ir Dede Rohadi MSc di acara pamitan dan serah terima hasil penelitian 'Peningkatan Manfaat Ekonomis Usaha hutan Rakyat Jati dalam Sistem Agroforestry di Indonesia' di ruang rapat I Pemkab Gunungkidul, Jumat (9/9).

Penelitian yang dipimpin Ir Dede selama Juli 2007 hingga Juni 2011 diantaranya melibatkan Centre of International Forestry Research (CIFOR), International for Research in Agroforestry (ICRAF) dan Badan Litbang Kementrian Kehutanan RI serta Pokja Hutan Lestari Kabupaten Gunungkidul.

Dikatakan, penelitian juga telah memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah dengan melakukan berbagai kegiatan partisipatif, yakni dengan pendampingan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penerapan silvikutur atau sistem budidaya yang lebih baik. “Kedepan terkait surat menyurat pada komoditas kayu jati juga perlu disederhanakan, petani juga perlu diberikan insentif dalam pengembangan usaha kayu jati rakyat,” imbuhnya.

Wakil Bupati Gunungkidul Drs Immawan Wahyudi SH MH mengungkapkan, hasil penelitian yang telah berjalan hendaknya bisa dijadikan pedoman ataupun pegangan. Agar pengelolaan usaha hutan jati rakyat di Gunungkidul meningkat dari segi kualitas dan bisa memiliki pemasaran yang semakin luas.

“Pengelolaan usaha hutan jati rakyat juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi, sehingga memerlukan peningkatakn baik dalam pengelolaan, sehingga memilki nilai ekonomi yang tinggi,” jelasnya. (R-2)


Jumat, 09 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar